Semua orang di sini selalu tumbuh dengan sayap. Pada anak-anak, sayap itu mungil belum bisa membawanya terbang. Pada remaja, kurasa sayap-sayap itulah yang berada di masa emasnya, gemar terbang ke berbagai arah – meskipun terkadang salah arah. Pada seorang ayah, sayap itu menua namun terasa sangat kokoh di punggungnya. Sayangnya pada ibu sayap itu menghilang, terlihat bekas luka yang mengering, tanda sayap itu terpotong secara paksa.
“Apa suatu saat aku harus jadi seorang ibu seperti Ibu juga?”
Ibu terseyum seraya menjawab, “tentu saja, menjadi seorang ibu kan pekerjaan yang sangat mulia.”
Aku diam mendengar, lalu menggumam sesuatu yang ibu tak akan kubiarkan mendengar.
“Menurutku tidak begitu.”
Aku tidak ingin mulia. Aku tidak ingin menjadi seorang ibu.
Namun semua orang terkesiap saat monolog batin ini berubah menjadi suara. Kata mereka, aku perempuan yang salah arah. Padahal sejak itu tak semua yang terarah mampu membentangkan kembali sayapnya.
Jika memang semua melihat itu sebagai hal yang mulia maka tak apa, karena langit terlihat lebih indah dari bawah sini. Walaupun mulai mengabur tertutup air lautan. Semakin jauh berkelana di tempat ini, hanya gelap yang kutemui dengan napas yang kian mencekik. Tapi tak apa, karena saat aku menoleh ke punggung, sayapku masih tetap utuh.