“Jangan letakkan dia seperti itu.”
“Kenapa?”
“Retaknya akan terlihat.”
“Kenapa retaknya tak boleh terlihat?”
“Retakan itu memalukan, tidak indah, dan cacat. Letakkan retakan itu dibelakang.”
Aku mengangguk, tapi tanganku mulai meraba sisiku yang juga retak. Retakan yang ikut tumbuh bersamaku.
Lalu aku ikut berpindah posisi, sebab aku tahu sisi mana yang harus terlihat di depan. Menatap ke cahaya, sedangkan sisi lain berselimut hampa. Dipindah ke belakang – tak penting untuk diperlihatkan.